Alhamdulillah akhirnya setelah blog ini beristirahat dalam kurun waktu yang amat lama, saya kembali nulis lagi di sini.
Maaf jika postingan sebelumnya saya hapus karena alasan berbagai hal yang tidak bisa dijelaskan. Jadi jika ada yang membuka blog ini kenapa baru satu dua post saja, ya karena saya hapus.
Langsung saja ya?
Kenapa disini saya berani membuat postingan tentang anak difabel, karena saya adalah seseorang yang berkecimpung untuk mempelajari dunia anak difabel. Kenapa dikatakan berkecimpung? Jawabanya karena saya adalah sarjana S1 Pendidikan Luar Biasa (PLB) dan saya juga telah menempuh Pendidikan Profesi Guru (PPG) selama kurang lebih setahun ini. Bukan berarti sombong, menyebutkan bahwa saya sudah sarjana dan PPG namun ini menjadi acuan saya dalam apa yang saya posting di blog ini. Jadi apa yang saya tulis itu bersumber murni dari pengalaman saya selama menjalani pendidikan dan menjadi seorang pendidik.
Baiklah untuk mengenal anak difabel, kalian harus sudah paham siapa mereka dan kenapa dikatakan difabel. Saya sudah menulis sedikit tentang difabel pada post sebelumnya silahkan dibaca jika tidak malas. Jika sudah paham saya akan membahas klasifikasi anak difabel.
Untuk pembahasan klasifikasi, saya ingin membahas anak difabel yang sering disebut Anak Tunalaras. Siapakah tunalaras itu? Tunalaras merupakan sebutan yang bagi orang awam, diasosiasikan dengan anak dan remaja yang sering menimbulkan keresahan dan keonaran, baik dilingkungan sekolah dan masyarakat, seperti mencuri, mabuk, penggunaan ganja dan obat terlarang, perkelahian, perkosaan, dsb. untuk di sekolah sendiri, perbuatan anak tunalaras meliputi antara lain membolos, melanggar tata tertib sekolah, merokok di sekolah, mabuk dan lain-lain (Sunardi: 1, 1995).
Penjelasan pengertian tunalaras tadi merupakan buah pikiran dari dosen saya saat kuliah yang saya dapatkan dari buku beliau Prof. Sunardi. Bagi saya selaku pendidik yang pernah mempunyai kesempatan untuk mengajar di sekolah tunalaras atau yang bisa kalian jumpai nama sekolahnya adalah SLB E, saya juga menemukan definisi tentang siapa anak tunalaras tersebut.
Menurut saya, anak tunalaras adalah mereka yang memiliki gangguan dalam perilaku dan mengontrol emosi, dimana anak tunalaras sulit untuk menahan amarah, dan cenderung impulsif dalam bertindak. Jadi, jelas saja jika mereka bisa dikatakan nakal, sering melanggar norma dan aturan, bahkan tidak segan melakukan kejahatan. Karena disini bisa kita garis bawahi bahwa mereka itu adalah anak yang memang memiliki gangguan perilaku dan emosi.
Lantas siapa yang ingin terlahir sebagai anak nakal, tentu tidak ada bukan. Nah, anak tunalaras pun begitu bukan berarti mereka yang nakal tidak memiliki kebaikan dalam hidup mereka. Anak tunalaras juga sekolah, bersosialisasi dan hidup di sekeliling kita.
Berikut beberapa gambar yang saya dapatkan saat Praktik Pengalaman Lapangan di SLB E Bhina Putera Surakarta, semoga kalian tidak keberatan ya nak bu guru pampang fotonya di sini.
Dari dua gambar diatas, menunjukkan bahwa anak tunalaras juga dapat belajar di kelas, duduk di kursi dan menulis di meja. Lalu untuk cara berkomunikasi mereka sama seperti orang orang pada umumnya dan siswa pada umumnya. Namun jika kalian dibantah, cerca, atau diabaikan perintahnya tentu itu adalah hal yang sangat wajar ditemukan di kelas kami.
Mereka juga melakukan kewajiban mereka untuk beribadah, mereka juga belajar agama sesuai agama mereka, sama bukan seperti kalian di sekolah.
Bagaimana dengan gaya berfoto mereka? aktifkah? tentu saja, tapi kami senang seperti ini.
Dikelas kami juga berbincang, dan mempelajari banyak materi pelajaran, bolehlah sambil tiduran jika kalian bosan atau ngantuk, asal tidak melakukan kegiatan yang membahayakan.

Ini adalah suasana kelas SMA, bisakah kalian melihat handphone di meja, atau bangku yang ditinggalkan karena dia malas belajar?
Mari melakukan permainan kecil saat pramuka, bermainlah dengan aktif dan berinteraksi dengan baik. Hal seperti ini dapat membantu mereka mengendalikan emosi saat berinteraksi dengan teman. Bagi guru harus dapat cepat mencairkan suasana jika ada yang mulai menaik emosinya.
Ini saya sedang mengajak anak-anak menyanyika lagu himne Pramuka bukan menginstruksikan mereka tertawa bersama.
Maukah kalian bermain tebak nama hewan bersama kami. Jika kalian bisa menebak ini adalah hewan komodo. Bukankah mereka kreatif.
Ini adalah salah satu siswa yang sangat pendiam, namun dia berani juga bernyanyi lagu nasional saat mengikuti lomba menyanyi dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia.
Mungkin baru ini yang bisa saya tulis mengenai anak tunalaras, untuk post selanjutnya mungkin saya akan membahas tentang karakteristik anak tunalaras.
NB: Untuk sekedar info, sekolah SLB E tahun 2018 bulan September ini mungkin sudah dihapuskan, jadi kemungkinan besar yang tadinya SLB E Bhina Putera akan berubah menjadi SLB Bhina Putera. Apa alasannya, kita bahas lain waktu ya.
Terimakasih jika sudah singgah dan membaca cerita kami.
Sumber: Sunardi. 1995. Ortopedagogik Anak Tunalaras I, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi, Proyek Pendidikan Tenaga Guru.











Tidak ada komentar:
Posting Komentar